takdir atau bukan? revealed

dari percakapan ringan bareng teman2 kongkow, akhirnya muncullah jawaban yang selama ini kutanya-tanyakan perihal takdir. ini masalah pemahaman yang ga kudapat ketika belajar dibangku sekolahan dulu, jadi tiap orang beda2 men, ok
jadi gw sependapat bahwa :
"Takdir itu adalah kejadian yang sudah berlalu, kejadian yang belom terjadi adalah pilihan."
hidup manusia selalu dihadapkan pada keadaan memilih, memilih ketika dilahirkan (walaupun dalam alam bawah sadar), memilih ketika melangkah (mau lari atau pelan, mau kaki kiri atau kanan dulu atau kanan terus terserah), memilih ketika bicara (bisa bicara dengan keras2, pelan-pelan, kasar, lemah lembut dll), memilih ketika melihat (mau lihat dengan mata agak disipitkan, lihat dengan mata melotot dll), bahkan memilih ketika bernafas (mau tarik nafas yang panjang, tersengah-engah, mau dari idung atau dari mulut). semua yang kamu lakukan saat ini adalah memilih, apapun itu.

naah si takdir itu nanti akan memposisikan diri sebagai efek atau konsekuensi dari pilihan-pilihan kita tadi. misal, jika kita pilih berlari maka mungkin takdir kita akan capek dan nafas terengah engah, jika kita bicara kasar maka mungkin takdir kita akan dibenci banyak orang, jika kita melihat dengan mata melotot mungkin takdir kita akan dikira orang marah atau orang sakit, atau jika kita bernafas dengan tarik nafas dalam yang panjang mungkin takdir kita akan berasa relaks. saya bilang mungkin karena banyak penyebab lain yang bisa jadi faktor x, seperti ada pengaruh dari orang lain, atau kondisi saat kita memilih. misal saat kita tarik nafas dalam yang panjang tiba-tiba ada nyamuk kesedot mungkin takdir kita akan emnjadi tersedak dan lain2

contoh kasus fir’aun misalnya, saat itu ia memang memilih ingin menjadi jahat, memilih menyekutukan tuhan, dan memilih saat dia mengucapkan bahwa dirinya adalah tuhan. sehingga konsekuensi (takdir) nya menjadi seperti itu, seperti dalam al-quran.

contoh lain, misalnya nih. aku pegang pisau, misal aku dendam ama si A (hahaha, kasian banget si A)trus kan aku bisa aja memilih menusuk si A (ceritanya si A ada disamping aku), tapi kan bisa aja aku memilih ngupas  mangga mengkal pake pisau tadi trus rujakan bareng si A. berarti kan aku akan memilih tu (dalam keadaan sadar) dan aku bisa mengira-ngira konsekuensi (takdir) yang bakal kuterima, kalo aku jadi bunuh si A maka mungkin aku akan dicari polisi dengan tuduhan pembunuhan. akan berbeda takdirnya jika aku milih ngupas mangga dan rujakan ama si A, maka mungkin akan terjadi kenyang atau mules dan baikan ama si A.
makin beda lagi jika ada pilihan abis ngerujak aku bunuh si A.

 

nah mudah mudahan membantu yang lain
kalo gak paham gak papa, yang penting aku dah paham
bukan Dia yang memilihku untuk berperan menjadi safri mursalin
tapi aku sendirilah yang memilih ingin menjadi safri mursalin dengan konsekuensi yang akan kuterima

nb: terima kasih buat adek

Leave a Reply